Desaku Yang Permai

POSTED ON: Minggu, 30 September 2012 @ 07.23 | 0 comments

"Desaku yang kucinta, pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda, dan handai taulanku..
Tak mudah kulupakan, Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan, Desaku yang permai..."

    Mungkin kata-kata di atas terdengar cukup asing di telinga anak muda saat ini, tapi lirik lagu inilah yang membuatku benar-benar dapat merasakan makna kebersamaan yang erat di desa. Desa itu adalah desa Jati, sebuah desa yang terletak di daerah Wonosari. Sebuah desa yang tidak begitu besar, namun memiliki tradisi yang sangat berharga untuk dipertahankan.
    Aku dan temanku, Ivan, tinggal bersama keluarga Pak Kismorejo atau yang akrab dipanggil Pak Kismo. Saat kami datang, kami disambut hangat oleh Bu Kismo beserta kedua anaknya, Bu Supeni, adiknya bersama dengan suaminya, serta dua orang cucu dari Bu Kismo. Pak Kismo sendiri sedang pergi ke ladang, mengambil hasil panen telo miliknya. Sedangkan Pak Susilo, suami dari Bu Supeni, juga tengah pergi bekerja.
    Setelah membereskan segala barang yang kami bawa, aku dan Ivan melepas penat dengan duduk sejenak di ruang keluarga, dan bercengkrama dengan Mas Ibnu, suami dari adik Bu Supeni. Dari masalah sehari-hari, hingga kebiasaan di lingkungan Desa Jati yang berbeda jauh dengan kehidupan di Jakarta menjadi topik hangat obrolan kami. Hingga akhirnya, tiba saatnya untuk makan siang. Kami menghabiskan makan siang kami dengan sepiring penuh dengan lima jenis makanan yang membuat kami sangat kenyang, Bu Supeni langsung menyuruh kami untuk kembali mengambil makan siang. Padahal, perutku sudah ingin meledak kekenyangan. Hal ini cukup membuatku berpikir, betapa berbedanya hidupku disini dengan di Jakarta. Di desa ini, orang yang baru saja kukenal langsung memberlakukanku seperti anak sendiri. Bu Supeni memandangku seperti anaknya sendiri, padahal kami saja baru kenal satu sama lain. Ia menaruh perhatian lebih pada kami, orang-orang muda ini. Berbeda dengan keadaan di Jakarta, dimana orang tidak peduli akan orang lain, yang penting ia dapat hidup makmur.
    Malamnya, kami pun akhirnya bertemu dengan Bapak Kismo, yang baru pulang dari ladang. Setelah beristirahat dan makan malam, Pak Kismo mengajak kami untuk ikut bersamanya ke rumah Ketua RT 03, mengikuti acara arisan. Ya, di desa Jati terdapat pula arisan yang diikuti oleh bapak-bapak. Di rumah Ketua RT itulah, kami berkenalan dengan para kepala keluarga yang tinggal di dekat rumah kami. Di sela-sela arisan itu, mereka saling bercerita satu sama lain, menceritakan pengalamannya di masa lalu yang mengundang gelak tawa. Kami, anak muda dari kota, hanya bisa ikut tertawa dengan wajah yang bingung, tidak mengerti apa yang dikatakan oleh bapak-bapak kepala keluarga tersebut. Aku sendiri hanya mengerti sedikit. Kebersamaan dalam lingkungan warga seperti ini, yang membuatku mengenang lingkungan warga di kompleks rumahku. Sekarang, sudah jarang ada kumpul-kumpul seperti ini. Bercerita, menghilangkan penat, hingga larut malam. Semuanya telah disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Rasa kebersamaan seperti inilah yang kurindukan.
    Esoknya, kami membantu ibu di dapur menyiapkan makanan. Setelah makanan siap, kami pun menghabiskan 3 porsi makanan yang disediakan. Di kota, mungkin kami dikatakan rakus. Tapi disini, justru keluarga kami sangat senang kami menghabiskan makanan yang telah dimasak. Itu tandanya bahwa kami mensyukuri hidup yang tidak mewah ini. Memang, hidup disini berbeda dengan kehidupan di kota. Tapi, di desa ini, hidup mewah bukanlah sebuah keharusan. Asal hidup tercukupi, mereka bahagia. Setelah sarapan, kami membantu Bu Kismo ke ladang. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan ibu-ibu tetangga, dan tak kusangka, ia menyapa kami dengan senyuman tulus dari bibirnya. Bahkan, dengan orang yang tidak dikenal pun, mereka masih menyapa kami dengan ikhlas. Bahkan, dengan teman sebaya yang sehari-hari kutemui saja, aku tidak sering menyapanya. Tapi, ibu ini menyapaku, yang tidak pernah dijumpainya. Ini menjadi sebuah pelajaran tersendiri untukku. Menyapa bukan sebuah pilihan, tapi sebuah keinginan yang tulus dari dalam hati.
    Hidup di desa ini memang terasa sulit untuk kami, yang masih merupakan pendatang baru disini. Pada suatu pagi, aku dan Ivan ikut Pak Kismo pergi ke ladang untuk memanen singkong miliknya. Mencabuti, memotong, dan memasukkannya ke dalam keranjang besar. Setelah keranjang terisi penuh, kami pun beranjak pulang. Pak Kismo dengan mudahnya mengangkat dan menaruh dua keranjang itu di pundaknya. Aku, yang ingin tahu, akhirnya meminta untuk membawakan keranjang itu. Awalnya, bapak menolak, tapi tak berapa lama, akhirnya ia setuju. Kucoba mengangkat kedua keranjang itu dan berjalan. Satu, dua, tiga langkah dan aku pun terkapar lelah. Bukan main beratnya keranjang itu! Aku heran, Pak Kismo dapat mengangkatnya dan membawanya pulang dengan mudah, padahal tubuhnya tidak lebih besar dari tubuhku atau Ivan. Akhirnya, kami pun menggotong kedua keranjang itu bersama, menuruni setiap petak tanah, dan berhenti sejenak. Begitu seterusnya hingga kami sampai di rumah. Satu hal lagi yang kupelajari dari Pak Kismo, tidak ada hal yang terasa berat jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh serta tidak mengeluh dan berputus asa.
    Selain itu, ada pula peristiwa yang paling mengingatkanku akan kenangan di rumah Pak Kismo. Ketika itu, kami bersiap-siap untuk tidur. Pak Susilo, yang senang memelihara burung, memasukkan semua burungnya ke dalam rumah. Biasanya, pagi hingga sore, burung-burungnya dalam sangkar digantungkan di selasar rumah. Akhirnya kami pun tidur. Saat itu, aku mendekati momen tertidur pulas, hingga tanpa basa-basi, mataku terbuka begitu mendengar suara kepakan sayap burung Pak Susilo, seperti sedang diganggu oleh seseorang. Tentu jantungku berdebar lebih kencang. Hal ini tidak terjadi pada malam-malam sebelumnya, dan tidak terdengar suara langkah kaki seorang pun di rumah itu. Aku mencoba menenangkan diri dan kembali mencari posisi yang pas untuk tidur dengan nyenyak. Namun, jantungku malah semakin berdebar kencang seiring terderngar suara suatu benda yang jatuh di atap di atas kamar kami. Benda itu terdengar bergerak turun, dan di samping halaman terdengar suara berisik, hingga akhirnya terdengar suara hentakan di jendela kamar kami. Aku tidak tahu pasti itu apa. Yang jelas, aku tidak bisa tidur setelahnya. Esoknya, aku menceritakan hal ini pada bapak dan ibu. Katanya, mungkin sebuah musang. Mereka pun meyakinkanku bahwa di desa itu tidak pernah ada hal-hal sebangsa hantu. Namun, salah seorang guru yang hari itu berkunjung ke rumahku mengatakan, "Oooh, itu tandanya kamu sudah 'diterima' disini.. Hahaha" Ya, lelucon yang ringan, tapi tetap membuat bulu kuduk berdiri. Jadi, aku dan Ivan sudah diterima oleh seluruh keluarga di rumah ini. Syukurlah kalau begitu.
    Begitu banyak pengalaman dan nilai hidup yang tidak dapat kulupakan. Meskipun dari pengalaman kecil pun, dampaknya besar bagi kehidupanku. Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu. Desa Jati memang menjadi tempat yang tidak akan kulupakan, tempat yang akan selalu kurindukan. Tempat dimana bapak-ibu merawatku dengan baik, walaupun hanya untuk beberapa hari. Ya, desa Jati yang permai.. 

"...Selalu kurindukan, Desa Jati yang permai..."

Yohannes Bagus Indrasworo

"Tak apa-apa."

POSTED ON: @ 07.12 | 0 comments

Aku terperangah menyaksikan gelas kaca itu terguling. Setengah gelas teh manis yang ada di dalamnya tumpah dan membasahi tikar di mana aku dan keluarga asuhku sedang makan malam. Tak diragukan lagi, tikar berbahan anyaman itu akan menjadi lengket dan mengundang semut. Aku menggigit bibir; nasi sudah menjadi bubur.
Serentetan kata maaf meluncur dari bibirku, ditujukan kepada Ibu Harti. Aku sungguh merasa tak enak pada beliau. Sudah hanya menumpang, menghabiskan air dan makanan, bikin kotor pula. Hebat sekali aku.
Aku terbengong ketika beliau hanya tertawa ringan dan kemudian menyodorkan lap untuk membersihkan sisa-sisa teh di tikar. 
“Tak apa-apa, tak apa-apa,” demikian beliau menanggapi permohonan maafku. Senyumannya tak goyah, tanda bahwa maafku diterima dengan sepenuh hati.
Bagiku, ini adalah salah satu hal yang menggelitik selama empat hari aku tinggal di rumah Pak Saryono dan Ibu Harti. Setelah terbiasa tinggal di rumahku sendiri, di mana setiap kesalahan kecil ditanggapi dengan teriakan penuh kemarahan ataupun sindiran, mendapati perlakuan seperti ini membuatku merasa agak kagok. Selama live-in, tak pernah sekalipun kesalahanku ditanggapi dengan kata-kata tajam; hanya dengan tawa ringan dan lambaian tangan yang menandakan bahwa mereka tak menganggap serius kesalahan-kesalahan kecil semacam itu.
Awalnya aku mengira bahwa perlakuan semacam ini kuperoleh karena aku adalah tamu di rumah mereka, tetapi setelah beberapa hari, aku menyadari bahwa ini sama sekali bukan perlakuan yang spesial bagi mereka. Tak pernah sekalipun kulihat Bu Harti atau Pak Saryono memaki atau memarahi ketika kedua anak mereka, Endah dan Nadin, berbuat salah. Gelas yang terbalik, makanan yang tumpah, sampah yang tak sengaja tercecer... Semua itu tak pernah memancing kemarahan mereka. Bagi mereka, kesalahan ada untuk ditertawakan, dan untuk dijadikan pengalaman agar kesalahan tersebut tidak terulang lagi.
Di kota, masih bisakah aku mendapati perlakuan seperti ini? Sepertinya, di kota, tepatnya di rumahku sendiri, setiap kesalahan kecil dapat memancing begitu banyak kemarahan. Setiap gerakanku di rumah selalu diiringi dengan kewaspadaan, dan setiap kesalahan yang kuperbuat selalu diiringi dengan rasa takut akan sindiran dan kemarahan. Demikian pula denganku sendiri; aku begitu mudah merasa marah atas kesalahan orang lain. Begitu mudah aku merasa tidak puas akan keadaan di sekitarku. Begitu mudah kemarahanku tersulut oleh kesalahan-kesalahan kecil, bahkan kalaupun kesalahan-kesalahan tersebut kulakukan sendiri.
Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa kesalahan adalah pelajaran, bukan kegagalan. Kesalahan adalah kesempatan bagi seseorang untuk menertawakan sekaligus memperbaiki diri sendiri. Tanpa adanya kesalahan, tak akan ada perkembangan dalam diri seseorang. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kesalahan dianggap sebagai suatu kegagalan; suatu kesempatan untuk memarahi orang lain. Apakah ini merupakan salah satu efek dari kehidupan di kota besar yang selalu diburu oleh waktu dan dibebani oleh begitu banyak kewajiban? Entahlah. Yang pasti, dari keluargaku di Girisubo, aku telah belajar bagaimana seharusnya memperlakukan suatu kesalahan; bukan dengan kemarahan dan makian, melainkan dengan tawa dan sikap lapang dada.

Inka Irina
XII-IPB/6

Keripik Singkong

POSTED ON: @ 07.07 | 0 comments



Live In

Pada hari Sabtu, 1 September 2012, kami, siswa siswi SMA Santa Ursula BSD berkumpul di sekolah untuk memulai perjalanan ke Wonosari untuk kegiatan live in yang akan kami jalani selama 5 hari kedepan. Sebelum kegiatan ini berlangsung, kami diberi pembekalan terlebih dahulu. Beberapa kali telah dilakukan pertemuan dengan suster dan para guru, berbagai pengarahan dan penguatan telah diberikan kepada kami. Barang yang kami bawa pun bisa dibilang sedikit dan sederhana, karena memang itulah tujuan live in, melatih kita untuk hidup sederhana, lepas dari kehidupan kita sehari-hari di kota dan ikut merasakan dan menjadi satu dengan masyarakat di desa. Hidup sederhana telah kita mulai, dengan perjalanan ke Wonosari menggunakan bus, bukan kereta maupun pesawat, dengan lama perjalanan 14 jam.
Sesampainya di sana, saya dan beberapa teman ditempatkan di desa Tanjungsari, dan kami masih dibagi dalam beberapa dusun. Saya bersama teman sekamar saya, Bella menempati keluarga Bapak Wardiyo. Pak Wardiyo mempunyai seorang istri dan 2 orang anak. Salah seorang anaknya, Pak Slamet, juga tinggal di desa yang sama, rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Pak Wardiyo, dan teman saya, Vanessa, Felicia, Celine, dan Aletheia, tinggal di rumah Pak Slamet. Karena rumah yang dekat dan tinggal dalam keluarga yang sama, sehari-hari kami beraktifitas bersama. Pak Wadriyo sendiri telah berusia 61 tahun dan selain bekerja sebagai petani, beliau juga berternak bebek dan memiliki usaha mengecer pupuk. Keluarga Pak Wardiyo hidup berkecukupan, walaupun begitu mereka hidup dengan sangat sederhana.
Hari pertama, saya merasa cukup tegang, karena ini merupakan pertama kalinya saya tinggal di desa yang benar-benar jauh dari kehidupan di kota. Sebelumnya saya sudah sempat bertanya pada kakak kelas, kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa live in itu menyenangkan. Kegiatan selama live pun mengasyikan. Biasa yang saharí-harinya kita selalu berkutat pada pelajaran, belajar, membuat tugas, tetapi selama 5 hari tersebut kita bebas dari segala hal itu. Dalam 5 hari tersebut saya gunakan dengan sebaik-baiknya untuk lebih mengenal kehidupan di desa dan bersosialisai dengan masyarakat lokal. Di hari pertama ini, kami mulai berkenalan dengan Pak Wardiyo, berbincang-bincang santai sambil mengenal satu sama lain lebih dalam. Pak Wardiyo juga mengenalkan kami ke keempat saudaranya yang juga tinggal di desa yang sama, dengan berkunjung ke rumah mereka satu per satu.
Desa Tanjungsari dulunya merupakan bagian dari Desa Tepus, namun sekarang sudah memiliki nama sendiri yaitu Tanjungsari. Daerah Wonosari seperti yang saya lihat di surat kabar beberapa hari yang lalu, sedang mengalami kekeringan, dan memang benar dibuktikan dengan beberapa sungai kering yang saya lihat selama perjalanan. Untungnya, Desa Tanjungsari masih bisa mendapatkan air bersih, walaupun di rumah Pak Wardiyo air baru mengalir dalam 3 hari sekali, sehingga harus ditampung dalam bak super besar, kami masih bisa berkecukupan air bersih.
Pada hari kedua, kami berenam, saya, Bella, Vanessa, Felicia, Celine, dan Aletheia, beserta Pak Frans mengadakan pertemuan pada pagi hari di sebuah bukit kapur. Untuk sampai ke sana, kami harus memanjat, benar-benar memanjat tebing-tebing yang curam dan jalan yang ekstrim, benar-benar menjadi pengalaman baru bagi saya.  Malam harinya kami diajak untuk menonton pertunjukan wayang di desa lain yang tidak jauh dari Tanjungsari. Disini juga saya melihat, bahwa hiburan-hiburan seperti ini lah hiburan rakyat di sana. Mereka tidak mengenal bioskop atau mall, hiburan yang dipertunjukan oleh rakyat dan untuk rakyat. Penontonnya pun banyak dan semua merupakan masyarakat desa yang juga ingin melepas penat setelah seharian bekerja.
Pada hari ketiga, kami pergi ke Pantai Selatan untuk menemani Pak Wardiyo mengikuti rapat tani ditemani oleh Pak Slamet. Perjalanan yang cukup lama kami tempuh dengan mobil pick-up. Karena udara yang bersih dan alam yang indah, perjalanan menggunakan pick-up terasa jauh lebih menyenangkan. Kami pergi ke salah satu pantai yang belum komersial, tak disangka ternytata pantainya masih sangat asri dan bersih. Tidak kalah dengan pantai yang dikenal semua orang di Pulau Bali. Kami juga sempat mampir ke Gua Maria Tritis, karena melewati jalan pulang kami. Perjalanan ke dalam ditempuh dengan berjalan kaki,jalan yang sangat panjang dan matahari yang panas benar-benar melelahkan kami, tapi semuanya terbayar saat melihat keindahan gua Maria tersebut. Guanya teduh dan sejuk, sangat berbeda dengan keadaan di luar yang panas terik.
Hari keempat atau hari terakhir kita sebelum pulang keesokan hari, agak berbeda dari sebelumnya. Kami pergi ke ladang untuk memanen kapas, karena sedang kemarau dan tidak turun hujan berbulan-bulan, banyak sekali yang gagal panen sehingga tidak pergi ke ladang, namun hari ini kami akan memanen kapas di ladang Pak Wardiyo. Ladangnya tidak begitu luas, tapi kapas yang kami panen berhasil memenuhi satu karung penuh. Untuk pertama kalinya juga saya melihat tanaman kapas, memegangnya, dan memanennya. Udara yang panas menemani pekerjaan kami, namun seakan bisa membaca pikiran kami, Pak Wardiyo menyuruh salah seorang pekerjanya yang sedang ada disitu untuk mengambil kelapa langsung dari pohonnya yang juga milik Pak Wardiyo yang juga ada di ladang tersebut. Sekali lagi, untuk pertama kalinya saya merasakan meminum air kelapa langsung pohonnya, dibuka langsung saat itu juga dengan golok dan menegaknya langsung dari batoknya. Rasanya benar-benar menyegarkan, dan segera membuat kami semangat untuk memanen sisa kapas dari setengah ladang. Semua ini sangat menyenangkan, karena bisa membantu orang lain.
Hari terakhir kami di Desa Tanjungsari pun tiba. Berat rasanya meinggalkan Pak Wardiyo dan keluarga, rasanya saya masih ingin tinggal di sini lebih lama lagi. Tetapi kami harus pulang ke Serpong. Terakhir perpisahan saya dengan keluarga sangat menyakitkan hati. Tidak sedikit juga dari kami yang menangis saat mengucapkan salam perpisahan dengan mereka, memang berat meninggalkan desa tersebut, apalagi mereka sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri dan mereka sudah memperlakukan kami seperti anak mereka sendiri. Tidak sedikit juga dari kami yang dibawakan buah tangan dari keluarganya masing-masing, saya sendiri mendapatkan keripik singkong buatan rumah, karena itu merupakan kudapan kami sehari-hari dan singkong merupakan makanan utama di sana. Tiada satu hari pun disana tanpa menyantap makanan berbahan dasar singkong ini -singkong disini seperti simbol kesederhanaan, simbol rakyat kecil-. Kami tiba di Wonosari untuk berkumpul, makan siang, dan mendapat sambutan dari siswa siswi SMK yang ada di paroki tersebut. Mereka menyambut kita dengan sangat baik. Selesai berdoa penutup kami pun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Serpong. Tidak sabar saya ingin segera pulang untuk menceritakan pengalaman-pengalaman yang saya alami selama live in di desa.
Selama live in, saya mendapat banyak sekali pengalaman-pengalam berharga yang tidak akan saya bisa dapatkan dari manapun. Saya belajar untuk lebih menghargai alam. Udara di desa masih sejuk, walaupun bahkan di siang hari sekalipun, karena banyaknya tumbuhan hijau dan lingkungan yang masih asri. Sedangkan di perkotaan, semakin sulit untuk menemukan daerah dengan pepohonan yang rindang. Orang-orang berlomba-lomba untuk membangun bangunan yang megah. Mereka menebang pepohonan demi kepentingan mereka. Saya dapat melihat pematang sawah dan ladang yang hijau, pemandangan yang indah yang tidak saya dapatkan di kota. Inilah yang membuat saya sadar dan berusaha untuk lebih menghargai alam, sebab kehidupan ktia juga berasal dari alam.
Melalui kegiatan live in saya juga menjadi lebih dekat dengan teman-teman yang lain. Sebelum live in saya tidak begitu mengenal mereka, bahkan dengan teman sekamar saya sekalipun, tetapi selama live in saya menjadi lebih mengenal dan lebih dekat dengan mereka. Membina pertemanan dengan banyak orang itu sungguh menyenangkan. Kita dapat saling membantu, dapat berbagi kegembiraan. Saya juga dapat mengenal penduduk-penduduk di desa. Mengenal kepribadian mereka yang ramah tamah, hidup dalam kesederhanaan, selalu bersyukur, dan juga sikap tolong menolong tanpa pamrih. Masyarakat di desa, semua saling mengenal satu sama lain, walaupun rumah mereka berjarak cukup jauh, berbeda dengan masyarakat kota yang kebanyakan bahkan tidak mengenal tetangga di sebelah rumah mereka yang berdempetan. Setiap kali berjalan dan bertemu seseorang langsung bertukar sapa, paling tidak saling melontarkan senyum.
Dari pengalaman ini pula saya melihat bahwa pembangunan di Indonesia sangat tidak merata. Pembangunan sangat terpusat di kota Jakarta. Daerah-daerah lain kurang diperhatikan oleh pemerintah, bahkan untuk hal dasar seperti pelayanan air bersih saja masih ada yang belum terjangkau, apalagi listrik, padahal berapa banyak listrik yang dikonsumsi masyarakat Jakarta setiap harinya? Pak Wardiyo juga pernah bercerita bahwa pemerintah, terutama presiden kita saat ini kurang memperhatikan sector pertanian. Petani kurang dihargai, padahal jika dipikir-pikir, kehidupan masyarakat seluruh Indonesia, termasuk masyarakat perkotaan juga makan dari para petani, sebenarnya petani dan masyarakat kecil lah yang menghidupi Indonesia. Namun selama ini jasa mereka kurang dihargai.
Dari Pak Wardiyo sendiri saya belajar banyak hal. Selain beliau adalah orang yang sangat religius, beliau benar-benar hidup dalam sikap kekeluargaan dan sederhana. Biarpun penghasilan beliau yang pas-pasan, cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari namun tidak berkelebihan, beliau masih banyak terlibat dalam kegiatan sosial dan menyumbang untuk orang lain. Contoh konkretnya, beliau cerita bahwa saat lebaran kemarin beliau menyumbangkan sebagian uangnya untuk zakat di masjid terdekat. Walaupun untuk umat yang berbeda keyakinan dengannya, beliau tidak pandang bulu untuk berbuat baik. Dapat dilihat juga, masyarakat disana hidup rukun dalam beragama, karena zakat dari Pak Wardiyo juga diterima dengan baik. Kegiatan live in dan Desa Tanjungsari mengajarkan saya banyak hal yang belum pernah saya ketahui atau bahkan saya coba sebelumnya.



Anastasia Zenia
XII – IPB / 2

Setetes Air Itu Berharga, Kawan...

POSTED ON: @ 06.27 | 0 comments



Gudung Kidul? Mendengar namanya saja sudah terbayang di benakku tentang keadaan di sana. Banyak orang yang sudah pernah mengunjungi tempat itu menceritakan bagaimana tandusnya salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta itu. Tandus, gersang, kering, panas, dan keterbatasan air. Yah...begitulah pandangan orang mengenai Gunung Kidul, daerah yang akan menjadi tempat tinggalku selama beberapa hari.
Tepatnya di sebuah dusun bernama Gude di desa Tepuslah aku tinggal. Saat perjalanan menuju ke sana, hamparan pohon kering dan tanah bebatuanlah yang terlihat. Tak heran memang. Nama Tepus sendiri sudah berulang kali disebutkan dalam berita sebagai salah satu daerah yang mengalami kemarau berkepanjangan alias kekeringan. Tanah gersang itu menjadi saksi bisunya, bagaimana air sudah lama tidak mengguyur kawasan ini.
Ketika aku sampai di rumah baruku, aku sedikit terkejut karena rumah itu tidak seperti yang kubayangkan. Bukan rumah berbentuk Joglo yang akan kutinggali, melainkan sebuah rumah berukuran cukup besar dengan bentuk selayaknya rumah yang berada di kota-kota. Padahal rumah itu sendiri terletak di atas gunung. Selain rumah, aku juga sedikit terkejut dengan kamar mandi yang ada di rumah ini. Kamar mandinya cukup bagus, tidak seperti WC ‘tembak’ yang sering diucapkan orang. Dan yang paling membuatku heran, rumah ini memiliki air yang cukup memadai.
Ya, air memang menjadi salah satu bahan perbincangan sebelum kami berangkat live in. Karena itulah aku khawatir ketika mendengar Tepus sebagai salah satu daerah yang kekurangan air. Mungkinkah aku sanggup menahan diri untuk tidak mandi selama satu minggu? Tentu saja tidak. Dan syukurlah, Tuhan mendengar doaku.
Rumah yang kutinggali ini memang memiliki dua tangki besar untuk menampung air. Darimana semua air itu berasal? Air yang dimiliki warga yang tinggal di daerah ini mereka dapat dengan mengeluarkan uang sekitar Rp 100.000,00 sampai Rp 150.000,00 per tangki. Harga yang tidak murah memang, bagi sebagian masyarakat yang bekerja sebagai petani. Oleh karena itu tidak semua orang bisa membeli air ini, dan mereka yang kurang beruntung itu harus mencari air sampai ke sumbernya, seperti yang ada di berita-berita.
Mendengar jumlah uang yang mereka keluarkan untuk membeli air membuatku dan teman serumahku sempat tidak enak untuk mandi dua kali sehari. Mereka mati-matian mencari air, kami malah menghabiskan air seenaknya. Itu bukan tujuan dari live in kali ini. Tapi kedua orang tua asuhku menyuruh kami untuk mandi di pagi dan di sore hari. Bagi mereka kebersihan tubuh harus tetap dijaga. Akhirnya kami memutuskan untuk mandi setiap sore saja, atau sepulang dari ladang. Hitung-hitung bisa membantu menghemat air. Dan aku benar-benar menghemat air di sana.
Di rumahku di Tangerang, aku bisa menghabiskan waktu sekitar setengah jam hanya untuk mandi pagi dan sore. Coba bayangkan berapa banyak air yang terbuang. Sementara di Tepus, aku hanya mandi sehari sekali, paling lama hanya sepuluh menit. Air yang kupakai juga hanya sedikit, dengan alasan karena aku memang harus menghargai air dan kualitas air di sana juga kurang bagus. Airnya berkapur sehingga warnanya keruh. Tidak heran memang, Gunung Kidul sendiri terkenal dengan kawasan gunung kapurnya. Pantas saja jika airnya berkapur. Tapi aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Selama masih ada air untuk mandi, pergunakanlah itu dengan sebijaksana mungkin. Begitulah prinsipku di sana.
Sebenarnya, kekeringan yang dialami warga Tepus tahun ini semakin bertambah parah. Musim kemarau semakin panjang, hujan sendiri hampir tak ada. Air hujan memang merupakan salah satu sumber persediaan air warga yang bisa di dapat secara cuma-cuma. Kekeringan yang tidak hanya melanda Tepus ini juga mengakibatkan sumber air yang biasa di dapat dari daerah lain semakin menipis. Mereka juga tidak dapat mengandalkan air tanah, karena tidak ada air yang bisa di dapat di tanah gunung kapur seperti itu.
Pernah suatu hari aku bertemu seorang bapak yang berkata air yang dipesannya belum juga datang padahal sudah lima hari. Sumber tempat mereka biasa mengambil air sudah habis, mengharuskan mereka mencari sumber baru lagi. Kalau sudah demikian, harga air bisa bertambah mahal, apalagi jika sumbernya lebih jauh dari sebelumnya. Air memang sangat berharga di tanah kering ini.

Inilah sepenggal kisah yang bisa kubagikan seputar live in di Tepus. Kenapa semuanya tentang air? Karena bagiku Tepus memberikan banyak pelajaran tentang air. Di daerah yang berkekurangan pasokan air bersih inilah aku belajar tentang bagaimana menghargai air dan pentingnya air dalam kehidupan manusia. Air memang sangat berharga dalam kehidupan kita. Pergunakanlah air sebaik mungkin. Tidak ada yang tahu bagaimana kondisi air di masa yang akan datang. Selama masih ada air bersih, gunakan dengan bijaksana dan jangan dibuang dengan sia-sia. Beruntunglah kita yang masih bisa mendapatkan air bersih, karena sebenarnya masih banyak saudara-saudara kita di negeri ini yang tidak dapat menikmati air bersih sebagaimana yang kita rasakan.

-Liliana Dea-
  XII IPB/7



Pelajaran Kecil dari Desa untuk Membuat Perubahan Besar di Kota

POSTED ON: @ 04.27 | 0 comments

Pada tanggal 2 September 2012 kami tiba di suatu aula di Wonosari untuk menjalani Live In. Lalu aku dan teman-teman berangkat ke Girisubo dengan menaiki truk ternak. Menaiki truk seperti ini adalah pengalaman pertama bagiku. Awalnya aku sangat excited. Apalagi anginnya sejuk. Namun lama kelamaan aku merasa lelah juga dan ingin segera sampai. Aku langsung membayangkan bagaimana orang-orang yang biasanya naik truk seperti ini, ditambah ternak atau sayur-sayuran bersama mereka. Sementara aku, begini saja sudah lelah rasanya.

Setelah kurang lebih 45 menit, kami tiba di rumah Pak Sarjono, ketua wilayah. Di sana, kami diberi sambutan dan disuguhi teh, gorengan, dan kacang. Sembari berkenalan dengan keluarga yang akan kami tempati, aku mulai mengamati kondisi di desa ini. Kesan awal yang aku dapat adalah orang-orang yang begitu ramah, bahkan terlalu ramah untuk ukuran orang asing.

Aku dan pasanganku, Rachel, ditempatkan di rumah keluarga Pak Karman, mbah kakung keluarga tersebut. Aku senang sekali bisa berada di tengah keluarga yang sangat ramah dan akrab satu sama lain. Mereka bukanlah keluarga yang seutuhnya kandung. Ada yang tiri, ada juga yang adopsi. Namun mbah putri, mbah kakung, ibu, dan bapak, tidak pernah terlihat membedakan. Bahkan aku tidak bisa membedakan yang mana kandung dan bukan. Satu sama lain selalu saling menjaga, saling melayani, saling berbagi. Terkadang aku memikirkan kondisi keluargaku di rumah, di mana kami jarang berkumpul bersama dan seringkali bertengkar hanya karena masalah yang kecil. Keluargaku biasanya tidak sepeduli ini satu sama lain, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, sangat beda dengan situasi di sini. Walaupun anggota keluarganya ada yang tinggal di Jogja, namun kekeluargaan mereka masih sangat terasa hangat. Komunikasi mereka selalu berjalan dengan lancar.

Awal kami datang, aku cukup kaget karena ternyata rumah keluarga ini sudah bagus. Besar, berubin, tembok bercat, kamar mandinya juga sudah bagus. Sangat jauh dari bayanganku akan rumah di desa. Namun dengan kecukupan seperti itu, aku juga kaget karena mereka menyuci piring masih menggunakan baskom, bukan air mengalir. Walaupun awalnya aku jijik, tapi aku memaksakan diri dan akhirnya bisa juga makan tanpa merasa jijik atau mengeluh. Mereka mengatakan “maaf sederhana” padahal menurutku makanan tersebut sangat banyak dan enak.

Setiap hari aku membantu Bu Titi, si mbah puteri, menjaga warungnya. Awalnya aku kira menjaga warung itu mudah. Namun ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Sepertinya aku membuat beberapa kerugian dan juga membuat beberapa pelanggan menunggu agak lama. Namun mereka, termasuk Bu Titi, hanya tertawa saja melihat aku yang sering panik, tidak marah sama sekali.

Suatu saat ada seorang ibu-ibu yang ingin membeli di warung, tetapi uangnya kurang. Ibu-ibu lainnya membayar kekurangannya dengan sukarela, dan ibu yang dibantu spontan mengucapkan terima kasih dan berkata “berkah dalem”. Kata Bu TIti, maksud ibu itu adalah bersyukur kepada Tuhan. Aku tidak pernah menemukan kejadian seperti itu di kota, dimana seseorang begitu peduli dengan sesamanya, dan seorang yang dibantu mengucap syukur kepada Tuhan.

Pada Rabu Pahing aku dan Achel sempat satu kali ikut Bu Titi ke pasar pagi. Kami berangkat jam 4 pagi. Sebenarnya aku masih sangat mengantuk, dan aku sangat pusing di sana, Bayangkan, berbagai bau, barang-barang, makanan mentah maupun matang, kambing, ayam, orang-orang dengan segala belanjaannya, jadi satu di sini. Namun aku menahan untuk mengeluh, dan akhirnya bisa bertahan juga sampai di rumah lagi. Dari sini aku sadar bahwa mengeluh tidak dapat membantuku, dan tanpa mengeluh aku dapat bertahan. Selain itu aku belajar bahwa bangun pagi itu baik, karena kita akan memiliki hari yang lebih panjang dan dapat melakukan berbagai kegiatan yang lebih berguna.

Aku juga sempat satu kali ke ladang Pak Karman. Jalannya curam dan berbatu, sangat sulit dilalui. Namun aku kagum dengan Pak Karman. Di usianya yang berkepala tujuh, ia masih bisa bolak-balik ke ladang dengan lincah. Ia juga bisa hafal berbagai jenis tanaman beserta deskripsinya dan menjelaskannya padaku dengan aura yang senang dan sabar.

Suatu waktu Bu Titi mencabut ketela dari tanah. Ia sangat kuat walaupun usianya sudah 60 tahun. Lalu ia mengupasnya dengan cepat dan lincah. Aku ngotot ingin mencobanya. Aku pikir, “Ah, kayaknya gampang, gitu doang.” Dan ternyata sangat susah, bahkan aku tidak bisa menyelesaikan satu buah ketela pun. Ia berkata bahwa ia kuat seperti itu karena selalu rajin bekerja dan tidak bermalas-malasan, sehingga badannya selalu fit. Aku merasa malu pada diriku sendiri. Di usiaku yang baru seperempat usia Bu Titi ini, aku sering bermalas-malasan, mengeluh, dan merasa lelah untuk melakukan berbagai pekerjaan. Aku juga sering menganggap berbagai pekerjaan terlalu berat untukku. Melihat semangat dan kerja keras Bu Titi memotivasiku untuk menjadi perempuan yang kuat, yang tidak tergantung pada bantuan orang lain.

Devi, cucu yang duduk di kelas 2 SMA, sempat mengajarkan aku menari jawa. Ternyata dia penari Jawa. Sebagai pencinta tari hiphop, aku tidak menyangka tarian daerah itu susah, karena menurutku gerakannya lamban dan berulang. Namun ternyata, aku tidak bisa mengikuti lenggak-lenggok Devi dan malah ditertawakan karena dibilang seperti orang habis sunat. Aku sadar bahwa kesukaanku pada budaya asing malah membuatku menyepelekan budaya sendiri. Walaupun aku tidak dapat menari Jawa, namun aku jadi lebih menghargai budaya Indonesia beserta pelaku-pelaku budayanya.

Selain kegiatan di rumah, kami juga berkunjung ke rumah tetangga. Ada Mbah Gondo dan istrinya yang hanya hidup berdua. Mereka terbilang kekurangan. Namun mereka sangat baik, ramah, tidak pelit, dan lucu terhadap kami semua. Mbah Gondo yang suka menyanyi ini juga mengajarkan kami sebuah lagu yang membuat kami selalu ingat akan Girisubo.

Ada juga seorang ibu yang selalu mengajak mampir ke rumahnya dan menyuguhkan kami berbagai macam makanan. Ia tidak kebagian anak-anak yang “ngenger”, namun ia melayani kami semua dengan begitu tulus. Bahkan ia menangis saat kami akan pulang. Aku sangat terharu melihat ia begitu menyayangi kami, padahal kami bukan siapa-siapanya dan kami hanya sempat mengobrol, bertamu, dan makan dirumahnya.

Mereka menerima kami apa adanya seakan kami keluarga sendiri. Mereka mau memaklumi ketidaksopanan kami yang kami sengaja maupun tidak. Mereka mau memaklumi kami yang tidak suka ini, tidak suka itu. Mereka selalu memberikan yang terbaik. Saat pulang pun, aku terharu karena penduduk di sana menangisi kepergian kami. Akhirnya aku tidak tahan untuk tidak menangis juga.

Otakku tiba-tiba menggelitik. Aku membayangkan, apabila semua pempimpin dan masyarakat berpola seperti mereka. Yakin, Indonesia bisa maju karena tidak mementingkan kepentingan pribadi masing-masing dan mengutamakan kebersamaan. Mungkin para pemimpin juga butuh live in?

Secara keseluruhan, aku senang sekali bisa live in, karena aku dapat belajar suatu kehidupan yang berbeda dari biasanya. Dan aku yakin dapat menjadi pribadi yang lebih baik dari pelajaran-pelajaran kecil yang aku terima di desa. Lebih bersyukur, lebih toleran, lebih sabar, lebih berusaha dalam mendapatkan sesuatu, lebih peduli pada orang lain. Pada tanggal 6 September pun kami pulang dan sampai kembali di BSD pada tanggal 7 September. Badanku yang terasa sangat lelah terbayar oleh rasa senang akan pengalaman yang baru saja aku alami J


(Raviella Angela Limengka)

Belajar dari Sapi - Michelle

POSTED ON: @ 00.06 | 0 comments





Desa Baran namanya, sebuah desa yang terletak di Wonosari, Jawa Tengah. Setiap desa pasti memiliki ciri khas berikut: rumah-rumah sederhana berjajar dan sebagian besar terdapat kandang-kandang hewan ternak pada halaman rumahnya. Sama seperti desa itu. Setiap aku berjalan-jalan mengelilingi desa, pandangan mata tidak pernah terlepas dari kandang-kandang sapi dan kambing. Baunya yang tidak sedap juga kerap kali menusuk hidung, sampai-sampai aku harus sedikit berlari sambil menutup hidung saat melewati kandang.
Dalam tulisan ini, saya akan menyoroti sapi sebagai topik pembicaraan. Bukan hanya sebagai hewan yang sekedar ada, namun juga memiliki banyak manfaat, mulai dari susu, daging, hingga kulitnya. Saya mendapatkan beberapa pengalaman menarik dengan sapi, yang orang lain pikir biasa saja, tapi memiliki sebuah makna bagi saya. Kebanyakan merupakan pengalaman lucu yang timbul dari pikiran absurd saya.
Dimulai dari ketika saya berkunjung ke rumah tetangga saya di desa Baran, saya mengamati bahwa sapi itu hewan yang rakus dan tidak pernah kenyang. Selain tidak pernah berhenti mengunyah makanan, sapi doyan segala jenis dedaunan, mulai dari daun pohon pisang, rumput, hingga daun singkong. Bahkan kulit singkong maupun gaplek (singkong yang telah dikeringkan) pun disantap dengan lahap. Dari situ saya berpikir bahwa sapi juga sama dengan manusia yang tidak pernah kenyang dan puas. Apa saja yang dapat kita ambil akan diambil dan terkadang tidak melihat resiko atas keserakahan kita. Sapi bisa saja sakit gara-gara salah makan bukan? Sama halnya dengan manusia.
Ada sebuah pengalaman lucu yang saya temui juga berkaitan dengan sapi. Suatu sore saya hendak mengunjungi rumah teman saya. Saya melewati sebuah kandang sapi di pinggir jalan setapak dan menemukan sebuah keanehan yang membuat saya tergelitik. Sapi putih itu besar, tapi matanya sipit! Sungguh, dilihat dari dekat pun matanya hanya segaris. Saya tidak tahu matanya memang begitu ataukah sedang tidur. Pikiran saya yang absurd membuat saya berkata pada seorang teman, ‘wih sapinya oriental! Dari China atau Jepang ya?’ dan dibalasnya ‘kalau dimasak kayaknya jadi sapi lada hitam’.  Lalu kami tertawa terbahak-bahak sambil mengamati sapi itu sekali lagi sebentar, lalu melanjutkan perjalanan.
Pengalaman paling berkesan adalah dengan sapi milik mbah Pi (rumah tempat saya live in). Beliau memiliki seekor sapi yang baru berusia 7 bulan. Di saat saya menganggur, saya duduk di depan pintu halaman belakang, menikmati angin sepoi-sepoi dan mengamati kehidupan di halaman belakang. 8 ekor ayam, seekor anak kambing, dan sapi yang tadi saya sebutkan. Kandang sapi dan kambing itu dibangun berdampingan. Saat itu saya melihat mbah Pi sedang memberi dedaunan pada tempat makan sapi,  namun tidak(belum) pada tempat makan si kambing. Si sapi mulai melahapnya selama beberapa detik, lalu si kambing yang mungkin merasa iri mulai mengembik keras berkali-kali. Lucunya, si sapi berhenti makan, lalu membawa beberapa helai daun pada mulutnya dan menaruhnya pada kandang si kambing lalu menjilati kepala si kambing. Aku yang hanya mengamati terheran-heran bahwa hewan ternak juga memiliki perasaan dan mau berbagi seperti seorang sahabat. Aku merasa tersentil. Kalau sapi saja bisa akur dengan kambing yang beda spesies, kenapa aku dan adikku yang sedarah tidak? Lalu apakah kita mau berperasaan dan berbagi dengan sesama?

back up / Newer →
Blog Anak Bahasa